danferecord*

guratan sejarah seorang dokter muda
[pembelajar-aktivis-pembela kebenaran ^^']

-agent of treatment, agent of change, agent of development-

Memang, proses menjadi baik itu panjang. Tetapi keputusan untuk memulai menjadi baik hanya memerlukan waktu beberapa saat.

—#refleksi

Comments

Dini hari, ketika aku bertugas jaga IGD Bedah sebuah rumah sakit, datang seorang pasien, ibu berusia sekitar 60 tahunan yang diantarkan oleh polisi menggunakan mobil colt terbuka kepolisian. Pertama kali masuk, aku sudah bisa memperkirakan bahwa pasien ini adalah seorang tuna wisma. Pengalaman hampir setahun bergelut di pemberdayaan kesehatan tuna wisma, gelandangan, dan anak jalanan membuatku cukup mudah mengenali mereka, dari penampilan umum mereka, dari pakaian mereka, dari gerak-gerik mereka, bahkan dari sekadar bau mereka.

Pasien trauma aku fikir, dilihat dari banyak jejas dan lebam di beberapa bagian tubuh dan mukanya, juga dari vulnus laceratum, luka sobek yang cukup dalam di kepalanya. Ibu ini ditemukan pihak kepolisian sedang tergeletak di salah satu stasiun di Bandung. Dan dari informasi yang didapat, kejadian yang menimbulkan luka ini sudah 3 hari yg lalu. Pantaslah ketika coba dilihat luka sobek nya, aroma nya sudah sangat tak sedap disertai keluarnya banyak nanah bercampur darah.

Setelah mengantarkan pasien ini, polisi segera beranjak pergi dari rumah sakit. Tentu saja, tak ada yang menemani, tak ada keluarga atau rekan yang membersamai seorang pasien tunawisma ini. Entahlah, diperlakukan beda atau karena sibuk. Tak seorang pun dokter residen bedah saraf, orthopedi, maupun bedah umum yang menangani pasien ini. Alhasil, aku bersama tim dokter muda yang berjaga saat itu yang menangani pasien ini dari awal sampai akhir. Semua keputusan klinik akhirnya harus aku yang mengambil. Entahlah, harus miris terhadap kenyataan akan perlakuan tak sama terhadap pasien ini, atau bersyukur karena diberi kesempatan belajar dengan kemandirian penuh. Selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian, itu yakinku.

Penanganan pasien ini menurutku termasuk kategori yang cukup sulit, pasalnya ia sangat tak kooperarif, dimulai dari diinjeksikan anastesi hingga pembalutan luka selalu meronta-ronta dan berteriak. Akhirnya dengan terpaksa tangan dan kakinya harus kami ikat, badan dan kepala nya juga harus kami pegangi, itupun ia masih mampu bergerak-gerak ketika aku jahit, bahkan karena nya, jarum jahitnya pun sampai bengkok ketika luka bagian dalam yang cukup sulit sedang kujahit.

Dengan bantuan beberapa rekan, akhirnya 10 jahitan luka dikepalanya bisa kami selesaikan. Selesai permasalahan klinis bukan berarti selesai permasalahan pasien ini. Setelah lukanya dijahit, ibu ini mau diapakan? Dikembalikan ke jalan begitu saja, dirawat atau seperti apa? Tak ada yang mengurusinya.

Silaturahim alhamdulillah bisa membuka jalan. Aku teringat seorang kawan, dengan aktivitas dan lembaga nya yang cukup memberikan perhatian terhadap gelandangan dan anak jalanan. Dulu aku pernah juga merekomendasikan kepadanya dua orang anak jalanan, satu karena hernia, dan satunya lagi kontraktur dibagian lengan kiri akibat luka bakar, juga beberapa luka di bagian tubuh lain dan lengan nya untuk dicarikan dana guna dioperasikan. Selain itu, aku juga pernah merekomendasikan pasien jagaku waktu di IGD anak, seorang bayi yang dilahirkan dengan cacat bawaan (kongenital anomali) yang sangat parah. Keluarga nya tak mampu menerima hadirnya, bahkan ingin membuang nya. Alhamdulillah Allah takdirkan, mempertemukan dengan orang-orang yang masih memiliki kepedulian. Berkat rekomendasi tadi, alhamdulillah hingga saat ini bayi tersebut terus dicarikan dana untuk dioperasikan, dan keluarga nya dimotivasi agar senantiasa diberikan kesabaran.

Begitupun dengan pasien ku yang sekarang, besar harap juga dipertemukan dengan mereka yang masih memiliki kepedulian. Akhirnya setelah selesai aku diskusikan dengan perawat rumah sakit, alhamdulillah masih ada jaminan sosial dari rumah sakit ini untuk perawatan. Dan alhamdulillah juga, rekan yang aku hubungi bersedia memenuhi panggilan untuk bantu menilai, membina, merawat dan mengembalikan pasien ini ke keluarga nya kelak.

Banyak yang bertanya, mengapa aku sebegitu memperhatikan, padahal pihak rumah sakit pun tentunya sudah memiliki aturan yang memberdayakan. Sadarlah kawan, bahwa ia tidak seberuntung apa yang kita rasakan, dan ingatlah juga, bahwa ia sudah menjadi guru yang memberikan banyak pelajaran dalam mempersiapkan bekal kita sebagai seorang dokter kedepan. Biarlah ibu ini menjemput rezekinya melalui perantara kita kedepan. :)

Comments

Salah satu pasienku saat jaga igd bedah kali ini adalah seorang bapak berusia 70 tahunan yang datang karena kecelakaan kerja. Kaki kirinya masuk ke alat penggilingan padi saat ia bekerja. Alhasil di kaki kirinya terdapat beberapa luka yang cukup besar, dan yang memprihatinkan adalah terdapat patah tulang terbuka derajat 3 di pasien ini, tulang kering nya menonjol keluar cukup besar, tajam, begitupun otot-ototnya. Tak terkira begitu sakitnya yang ia rasakan.

Sedih adalah ketika harus mengetahui tindakan yang harus dilakukan pada pasien ini dengan biaya yang sangat tinggi menurut kemampuan keluarga nya, lebih dari 10 juta. Berasal dari keluarga tak mampu, dan juga merasa tak mampu memperjuangkan uang sebanyak itu, akhirnya keluarga meminta pulang paksa pasien tersebut.

Akhirnya yang bisa kami lakukan ialah membersihkan luka, mereduksi memasukkan kembali tulang yang menonjol keluar tersebut, lalu menjahit nya. Akibat terlalu besar nya luka, juga penonjolan otot yang keluar, aku tak bisa menjahit luka nya sampai rapat benar, jika dipaksakan rapat benar, justru berbahaya bagi pasien ini. Alhasil, setelah aku jahitpun, beberapa luka masih agak terbuka. Mau bagaimana lagi? Setelah itu kami bidai dan pasien dibawa pulang paksa setelah keluarga pasien menandatangani surat pernyataan, bahwa segala kemungkinan yang terjadi, seperti perburukan kondisi dan komplikasi yang mungkin terjadi diluar tanggung jawab kami,dikarenakan keluarga pasien menolak standar operasional prosedur yang seharusnya dilakukan.

Miris melihat kejadian ini, aku fikir ini adalah satu dari sekian banyak kasus tentang terhentinya pengobatan karena kendala keuangan. Ya Rabb, kelak tolong izinkan hamba untuk bisa jadi salah seorang yang mampu mengatasi sistem kesehatan Indonesia yang masih carut-marut ini. Amiinn. (˘ʃƪ˘)‎

Comments

“Alasan nya sederhana, aku tak ingin puluhan, ratusan, apalagi ribuan mata tertuju pada nya, apalagi memperhatikan gerak tubuh nya. “

Sebuah argumen yang aku lontarkan disaat sang adik diminta tampil di satu kesempatan pagelaran tari, walau dalam lingkup kecil, sekolah.

Terkesan posesif? Silahkan. Ini bukan lagi zaman balita, TK, atau SD dimana ia bisa jadi komunitas lucu yang dipagelarkan.

Prinsip setiap kita mungkin tak sama. Tapi bagiku ini proses menjaga, menjaga diri dan keluarga. Menjaga pandangan orang terhadap yang bukan hak nya, juga menjaga keluhuran nilai suaminya kelak.

#sikap

Comments

Bahagia itu sederhana. Semisal mendengar kabar gembira dari seorang kawan, seorang teman dekat selama 4 tahun menjalankan kehidupan di fakultas kedokteran. Hari ini ia berujar, bahwa ia akan segera menyempurnakan setengah agamanya, tepat ketika ia lulus dokter, sekitar 6 bulan lagi. Proses sekarang sudah sampai ke kedua orang tua masing-masing, luar biasa.

Senang sekaligus kaget, tak pernah menyangka ia berproses secepat itu. Dan yang lebih tak menyangka nya lagi, calon nya juga teman baik ku sewaktu SMA, teman satu organisasi, satu komunitas. Lucu, melihat dua insan ini jika dipersatukan. Teman baik kuliah yg berbeda SMA dengan teman baik SMA ku yg berbeda kuliah nya denganku kini. FK bertemu Teknik, dua kultur yg juga jelas berbeda. Suku bangsa yang juga berbeda.

Yang lebih menariknya, disadari atau tidak, aku yang ternyata telah memperantarai mereka, melalui sebuah organisasi yang aku bentuk. Sungguh kebahagiaan tiada terkira ketika aku baru sekadar mendengar kabar ini, apalagi ketika kelak semua prosesnya dimudahkan hingga akhir. Dua orang teman baik, dua orang yang sama-sama baik dipertemukan. Akan sangat seru rasanya jika bertemu di reuni nanti jika mengenang kejadian ini.

Kelak aku akan banyak belajar dari mereka. Dua insan yang secara diam-diam memiliki kecenderungan. Inilah yang namanya rasa saring berbalas. Doaku menyertai kawan, bahkan apapun yang perlu dibantu, aku siap memediasi, dengan sungguh-sungguh, totalitas.

Jika tiba waktunya, sungguh ini bakal jadi kompor. Dan aku tentunya orang yang pertama bakal habis dikompori massa. Tapi tak apalah, semoga kelak semua itu jadi doa, dan mendapat nasib sama. Bertemu dengan insan yang memiliki kecenderungan yang sama. :)

Sekali lagi, bahagia itu sederhana, semisal melihat kawan kita bahagia.

Comments
@detinnitami amiiiin. sok didoakeun :). si itu juga anak kedokteran kan? berdoa aja supaya dia ngelanjutin program studi profesi dokternya ntar biar bisa jadi dokter :P
kalo buat laki-laki sih emang banyak yang pengen punya istri dokter. tapi berlaku juga sebaliknya gk ya? hehe
#random #baladaanakkedokteran

@detinnitami amiiiin. sok didoakeun :). si itu juga anak kedokteran kan? berdoa aja supaya dia ngelanjutin program studi profesi dokternya ntar biar bisa jadi dokter :P

kalo buat laki-laki sih emang banyak yang pengen punya istri dokter. tapi berlaku juga sebaliknya gk ya? hehe

#random #baladaanakkedokteran

Comments

Ainun terus menerus dengan kesabaran dan ketabahan yang tulus memberi dorongan dan mengilhami saya dalam pekerjaan - tugas. Ainun tidak pernah menuntut dan memberi persoalan, sehingga saya dengan tenang dapat konsentrasi pada pelaksanaan tugas dan pekerjaan yang sedang saya hadapi. Yang diperhatikan Ainun adalah semua yang berkaitan langsung dan tidak langsung dengan kesehatan saya. Sering ainun sebagai seorang dokter memeriksa kesehatan saya termasuk denyutan dan getaran jantung dengan alat kedokteran yang dia miliki. Dengan perkataan lain, Ainun bertindak tidak saja sebagai isteri namun juga sebagai seorang dokter pribadi. Jika saya lelah, Ainun selalu menyapa dengan senyuman dan pandangan mata yang memukau dan saya rindukan selalu.

salah satu cuplikan dari buku Habibie & Ainun

Pantas saja banyak pria yang mendambakan istri seorang dokter ya. Merefleksikan diri sekitar 4 tahun kebelakang, di buku kenangan SMA milik salah seorang teman, diriku pernah mencantumkan ttd disertai catatan kecil, kurang lebihnya begini “danfer, dokter, atau suami seorang dokter ;)”. Iseng memang, tapi itu yang kulakukan dulu disaat perpisahan dengan rekan-rekan SMA ku.

Kini ketika sudah 6 bulan lagi mendapat gelar dokter (saat ini baru S.Ked saja) masihkah terfikir untuk punya istri dokter? wallahu’alam , nampaknya tak semenggebu dulu. Yang pasti mah kelak selain bertindak sebagai suami, diri ini juga harus bertindak sebagai seorang dokter pribadi istri, anak-anak, dan keluarga. :)

Comments
Usai menyaksikan film dokumenter besutan Ahmad Yunus dan Dhandy Dwi Laksono dari buku “Meraba Indonesia: Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara” . Buku yang menceritakan hampir setahun perjalanan dua wartawan kawakan, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, mengelilingi Indonesia. Dengan mengendarai sepeda motor win 100 cc bekas yang dimodifikasi, mereka mengunjungi pulau-pulau terluar dan daerah-daerah bersejarah di Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas hingga Pulau Rote. Ratusan orang telah mereka wawancarai; ratusan tempat telah mereka singgahi.
Menyaksikan film itu jadi semacam punya mimpi, untuk bisa keliling Indonesia, mengetahui realita kesehatan bangsa disana. Jadi punya semangat untuk PTT, kayaknya seru, apalagi sambil menghabiskan waktu bersama sang istri yang siap menemani #eh #tapiiniserius :)

Usai menyaksikan film dokumenter besutan Ahmad Yunus dan Dhandy Dwi Laksono dari buku “Meraba Indonesia: Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara” . Buku yang menceritakan hampir setahun perjalanan dua wartawan kawakan, Farid Gaban dan Ahmad Yunus, mengelilingi Indonesia. Dengan mengendarai sepeda motor win 100 cc bekas yang dimodifikasi, mereka mengunjungi pulau-pulau terluar dan daerah-daerah bersejarah di Nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, Dari Miangas hingga Pulau Rote. Ratusan orang telah mereka wawancarai; ratusan tempat telah mereka singgahi.

Menyaksikan film itu jadi semacam punya mimpi, untuk bisa keliling Indonesia, mengetahui realita kesehatan bangsa disana. Jadi punya semangat untuk PTT, kayaknya seru, apalagi sambil menghabiskan waktu bersama sang istri yang siap menemani #eh #tapiiniserius :)


Comments

Sekali lagi aku kagum, pada kebaikannya, lewat keindahan yang disampaikan banyak orang tentangnya dan ketaksempurnaan yang menjadikannya manusia. :)

—#doa

Comments

Selalu kagum. Selalu kagum dengan ia yang tak ingin terlihat walau punya kontribusi besar untuk umat. Selalu kagum dengan ia yang hanya mengharapkan ganjaran dari Allah tanpa mengharapkan pujian dari manusia,tanpa pencitraan. Selalu kagum dengan ia yang bekerja dalam sunyi. Selalu kagum dengan ia yang istiqamah memberdayakan kaum nya. Selalu kagum dengan ia yang bekerja di balik layar dan fokus membina generasi, bukan menjadi pusat perhatian. Selalu kagum dengan ia yang fokus pada kemanfaatan umat, bukan aktualisasi diri.

Selalu kagum dengan ia yang bisa menjaga sikap, menjaga tingkah laku, menjaga ucap, di dunia nyata maupun dunia maya. Selalu kagum dengan ia yang menjaga interaksi dengan lawan jenis nya, selalu kagum dengan ia yang terjaga diri nya akan perbuatan, pembicaraan yang tak penting. Selalu kagum dengan ia yang tak pernah mengumbar rasa, berkeluh kesah, di dunia nyata maupun dunia maya.

Selalu kagum, dengan ia yang membatasi senda gurau dan tidak saling menggoda di dunia nyata maupun dunia maya. Selalu kagum dengan ia yang sungguh-sungguh mewujudkan harap melalui doa di setiap sujudnya. Selalu kagum, dengan ia yang pintar menjaga hatinya, juga menjaga dirinya. Selalu kagum, dengan ia yang pintar memilih lingkungan nya yang baik dan mampu menginspirasi.

Selalu kagum dengan ia, yang kelak kupanggil dinda, dan anak-anak ku panggil bunda :)

#doa #bukangalau

Comments

Usai jaga IGD bedah. Lumayan banyak pasien hari ini, dari pagi hingga malam tadi tindakan tak berhenti dilakukan. Satu yang cukup membuat ku mengambil arti.

Salah satu pasien datang hari ini karena kecelakaan kerja, seorang pria berusia 20 tahun, tangan nya masuk ke mesin penggiling ikan. Tak ayal, ketika dibawa ke igd bedah, bentuk jari tangan nya sudah tak karuan, crush injury, jari-jari tangan nya hancur, remuk, terpintir, dan beberapa hampir terlepas. Tak terbayangkan betapa sakit nya. Terlebih, 3 jari tangan nya, telunjuk, jari tengah, dan jari manisnya habis, sudah mati dan tidak bisa disambung, harus diamputasi. Yang tersisa hanya jempol dan kelingking nya yang masih bisa diselamatkan.

Alhamdulillah, merefleksikan pada diri, semua jari tangan masih menyatu, dan semoga tetap memberi arti. Bersyukur, bersyukur, bersyukur. Untuk hal kecil yang terkadang tak kita sadari.

Wahai jari, teruslah memberi arti, jadilah berarti sebagai bentuk abdi pada Tuhan mu yang menciptakan. Semoga engkau bisa istiqamah aku gunakan dalam kebaikan. Menulis, mengetik, menangkap ilmu, mengambil hikmah, dan berbagi inspirasi. Semoga engkau tetap terjaga untuk tak menyentuh yang bukan muhrimku. Semoga engkau tetap menengadah ke langit menyampaikan doa untuk mewujudkan harap :)

#refleksi #doa #doktermudabedah

Comments

Kata-kata kasar itu mengalir lancar keluar dari mulut nya sepanjang hari. Dibawah kendali alam sadar. Lafadz istighfar dan ajakan mengingat tuhan yang coba kupandu digubrisnya. Begitu yang kudapati di instalasi gawat darurat bedah di salah satu waktu ketika aku jaga pada pasien cedera kepala berat karena kecelakaan, akibat tertabrak mobil truk.

Menjadi sebuah bentuk pengingat, bagaimana nanti ketika di akhirat, ketika semua anggota badan dipertanggung jawabkan, ketika lidah kelu dan semua menunjukkan kejadian tanpa bisa kita sembunyikan, jauh melebihi kendali bawah sadar.

Semoga aku dan orang-orang yang kucintai bisa menjadi orang yang terjaga dalam kebaikan, mengalir dari setiap ucap dan laku nya kebaikan, di alam sadar, dibawah kendali alam sadar, maupun di pengadilan akhirat kelak.

Amin.

#refleksi #doa

Comments

kecelakaan, kali ini bukan di IGD bedah aku dengar cerita tentang itu. setiba di rumah, bada maghrib selepas merebahkan badan di ruang jaga sebuah rumah sakit, aku dengar cerita itu dari ibu yang menyambut hadirku bersama hujan.

kali ini cerita tentang bapak, yang juga belum lama tiba di rumah selepas kedatanganku. kecelakaan ringan, begitu aku dengar cerita dari ibu, tentang bapak. aku lihat kendaraan yang dipergunakan menghantarnya rusak sedang, bergegas aku lihat kondisi penumpang, Alhamduillah bapak hanya luka ringan, di beberapa bagian tubuhnya.

tak sulit memberikan pertolongan, mengingat kejadian setiap kali jaga IGD bedah kasusnya lebih berat dan memprihatinkan. hal ini kembali merefleksikan, betapa bersyukur nya memilih fakultas kedokteran. dengan ini aku diberi kesempatan untuk memberi pertolongan, pengobatan pada keluarga sendiri, terlebih untuk kasus-kasus yang dibutuhkan penanganan segera. menjadi dokter pribadi bapak, ibu, istri dan anak-anak ku kelak menjadi peran yang menyenangkan, yang juga kan ku prioritaskan.

bersyukur, membelot pilihan dari teknik informatika ITB menuju kedokteran Unpad. bersyukur, Allah takdirkan diri lolos dari teknik mesin ITB di pilihan kedua dan ilmu pemerintahan Unpad di pilihan ketiga.

bersyukur.bersyukur.bersyukur.
semoga kelak ada generasi yang melanjutkan di dunia kedokteran :)

Comments

Jika preman saja tak sudi dikejar-kejar, apalagi laki-laki sholeh, pinter, baik hati, setia, calon ayah teladan se dunia.
Menginginkan kelak mendapatkan suami sholeh ? maka jadilah sholehah yang punya harga diri, berkualitas dunia akhirat, tahu bagaimana menjaga kehormatan dan kemuliaan dirinya.

*Bersembunyilah dengan aman, maka cinta sejati itu akan mencarimu dengan iman.

Bunda Tatty Elmir.

- Eta pisan! :)

Comments

kita agendakan main lagi yuk @VolunteerDoctor ?? :)

Comments